Translate

Cari Informasimu di Mainkejogja.com

TOTAL VIEWERS

EVALUASI TENGGELAMNYA KAPAL KM SINAR BANGUN

Foto by Google


               (MainkeJogja.com) Tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun pada Senin (18/6/2018) sore, setelah 30 menit berlayar dari Simanindo, Kabupaten Samosir menuju Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara menghebohkan berbagai pihak. Penyebab tenggelamnya kapal Km Sinar Bangun pun banyak bermunculan, mulai dari kelebihan muatan, cuaca buruk, hingga hal mistis tertanggapkan ikan mas seberat 14kg. Dari diskripsi peristiwa tersebut, musibah yang terjadi memang bisa dihindari. Akan tetapi, memaksimalkan antisipasi memang perlu dilakukan. Data dari Tribunstyle melansir dari Kompas.com, "Sebelumnya disebutkan korban selamat 18, meninggal tiga dan hilang 184 orang. Sekarang jumlah korban yang selamat jadi 21, meninggal tiga, dan hilang 164 orang," kata Budiawan, Selasa (26/6/2018). Dari kejadian tersebut, bisa kita evaluasi, bagaimana jaminan keselamatan dalam angkutan penyebrangan?

Pertama, tenggelamnya Km Sinar Bangun diduga karena kelebihan muatan. Permasalahan seperti ini sebenarnya sangat klasik dan terus berulang, minimnya pengawasan seringkali lalai dalam memperhatikan jumlah penumpang. Hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya pengawasan dari pihak terkait yang seharusnya bisa mengecek jumlah penumpang sesuai dengan sertifikat yang telah diberikan oleh kapal Km Sinar Bangun. Seharusnya Dinas Perhubungan aktif dalam pengawasan dan harus mudah ketika ditemui. Kedua, Permasalahan jumlah penumpang yang melampaui batas bisa dikarenakan juga oleh minimnya jumlah armada kapal untuk mengangkut menumpang. Hal ini memang menjadi perhatian khusus sehingga solusi yang diberikan yakni menambahkan armada-armada baru untuk mengatasi hal tersebut. Ketiga, keselamatan penumpang menjadi hal terpenting, namun dalam kejadian tenggelamnya kapal Km Sinar Bangun alat keselamatan untuk penumpang memang belum standart.  Idealnya, kapal harusnya tersedia pelampung yang melebihi penumpang, dalam kenyataanya hal seperti ini sering kali diabaikan.

Pengawasan baru efektif dilakukan bila ada pe­tugas yang mengawasi sehingga hal serupa tidak lagi terjadi.  Seharusnya mengupayakan standar yang baik dan maksimal serta perlu adanya evaluasi akurat sebab-sebab terjadinya sebuah kecelakaan. Dengan demikian, dari peristi­wa tenggelamnya KM di perairan Danau Toba ini bisa kita evaluasi apa penyebabnya dan apa antisipasi yang bisa dilakukan. (Dita Tamara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tags

About (1) berita travel (30) Culture (3) kolom opini (22) OPINI (25) Rekomendasi (2) Tips (1) Travel (32)

Popular