Translate

Cari Informasimu di Mainkejogja.com

TOTAL VIEWERS

Hotel Bertabur Pesat, Air Masyarakat Jogja Asat



Yogyakarta (MainkeJogja.com) Sumur masyarakat Yogykarta, khususnya wilayah Gowongan, Miliran dan Godean yang kedalamannya mencapai 5 meter mengering. Bukan akibat dari kemarau panjang, melainkan dari debit air yang mulai menipis. Hal tersebut, dikarenakan hotel pencakar langit menyedot persediaan air tanah di wilayah setempat. Pasokan air untuk ribuan kamar dan ratusan kolam renang membutuhkan jutaan liter air, belum lagi dengan ratusan rumah masyarakat yang membutuhkan air untuk keperluan sehari – hari. Walaupun persediaan air tanah Jogja diakui aman oleh pihak pemerintah, namun jika tidak ada timbunan air tanah, persediaan untuk kedepaannya kemungkinan akan minim bahkan akan habis. Pasalnya, beton pada bangunan hotel menghalangi air hujan yang seharusnya terserap oleh tanah dan mampu menjadi persediaan air. Belum lagi dampak dari pembangunan hotel pra moratorium yang masih tertunda.
Fenomena alih fungsi lahan bagian dari perjalanan kemajuan zaman. Dimulai dari menunjangnya perkembangan sektor ekonomi, wisata hingga sosial. Seperti halnya Kota Jogja dan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat dimana orang – orang dengan mudah mencari lokasi hiburan malam, wisata keluarga, belajar budaya, dan bisnis. Hal tersebut, berkaitan dengan pemberian pelayanan dari berbagai pihak. Jelas, tujuannya untuk mempertahankan para pelaku yang datang dari luar DIY tetap terpikat dan nyaman oleh kemanjaan pelayanan disela – sela aktivitas dan kesibukan. Wilayah Yogyakarta yang meyakini filosofi Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara ini mendapatkan salah satu cara memikat wisatawan dengan memberikan tempat singgah berbagai level. Maka dari itu, motel, apartemen dan hotel mulai berjamur, khususnya di Kota Jogja.
Selain menguntungkan pihak swasta, tentunya bangunan penanam beton itu memberikan keuntungan kepada pemerintah setempat lewat pajak daerah, yang tergolong tinggi dari pajak bangunan lain. Badan Pusat Statistik Yogyakarta pada tahun 2016, mendapatkan Rp 95.700.000.000,00 dari pajak hotel untuk daerah. Selain itu, data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki 157 hotel berbintang dan lebih dari 400 hotel non bintang yang mayoritas terbanguan di Kota Jogja. Ditambah lagi, akan ada pembangunan sebanyak 16 hotel di tahun 2018. Pembangunan serta banyaknya hotel yang sudah ada jelas akan membutuhkan banyak air dan kemungkinan mengganggu ketersediaan air di pemukiman penduduk. Pasalnya, hotel yang dibangun diduga tidak memiliki sumur sendiri bahkan ada hotel menggunakan sistem artesis untuk mengambil pasokan air, sehingga air tanah sekitar banyak digunakan untuk pihak hotel tanpa memikirkan dampak dari ketersediaan air tanah sekitar.
Kamar hotel pada tahun 2013 sekitar 10.303 kamar dan diperkirakan oleh PHRI pada tahun 2018, angkanya akan mencapai 19.322 kamar hotel. Sedangkan, rata – rata di Yogyakarta satu kamar hotel membutuhkan 380 liter air perhari dan belum lagi kolam renang yang mungkin mencapai 1.000 liter, ditambah lagi satu rumah tangga membutuhkan 300 liter air setiap harinya. Jika dibandingkan dengan ketersediaan air tanah di Yogyakarta yang rata – rata mencapai 7 milyar meter kubik ini mungkin akan cukup. Namun perlu diingat, angka tersebut tidak dapat menanggulangi musibah di 4 bulan terakhir tahun 2014 di beberapa wilayah Jogja.
Ketersediaan air tanah disetiap wilayah di Daerah Isitimewa Yogyakarta berbeda – beda dan jika satu daerah mendapati kekeringan air tanah, maka pemerintah memberikan pasokan air dari ketersediaan di wilayah lain. Artinya, yang seharusnya digunakan untuk kepentingan lain, kemungkinan disektor pertanian yang menyuburkan lahan untuk bercocok tanam bisa jadi teralihkan. Belum lagi, jika curah hujan air tinggi. Drainase akan memberikan sedikit perannya, karena beton bangunan disetiap bangunan menutupi jalan air hujan dan mengakibatkan banjir. Permasalahan lingkungan yang juga mulai muncul di sini adalah dari aspek biotik atau makhluk hidup. Dari segi manusia terkena dampak negatif seperti pencemaran udara yang menimbulkan bau tidak enak di sekitar lahan yang berubah fungsi. Dari segi tumbuhan dan hewan sering berkeliarannya tikus-tikus sawah ke pemukiman penduduk, yang habitatnya telah tergusur oleh pembangunan.
Sebenarnya, jika kebijakan mengenai pembangunan hotel, tata ruang kota dan sumber daya alam tertata rapi serta saling peka dampaknya kerugian akan kurang terasa. Pemerintah harus bertindak tegas terhadap pihak hotel ataupun apartemen yang mengganggu ekosistem setempat. Solusi untuk mengurangi alih fungsi lahan yaitu dengan melakukan penyuluhan dan perizinan, jikala perlu ada peraturan mengenai pembatasan bangunan hotel atau apartemen, khususnya di Kota Jogja. Pihak hotel juga dapat mengguanakan air PDAM yang menyaring air sungai sebagai sumber air, sehingga tidak perlu menggunakan pompa yang menyedot air dari penduduk setempat. Namun, pihak hotel juga harus sadar. Lahan yang digunakan juga berada diwalayah padat penduduk. Jadi proses saling menguntungkan juga perlu diadakan dengan pihak penduduk. Jadi filosofi Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara yang diyakini Daerah Istimewa Yogyakarta dapat berjalan dengan baik. (Narum Khoriha)


Sumber data    :
-          Catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di DIY ada 157 hotel (Harian Jogja, edisi 16 Desember 2017)*
-          Film Dokumenter dari Watchdoc Documantary berjudul Belakang Hotel (https://www.youtube.com/watch?v=mGwS78pMPmU)



3 komentar:

  1. Bermanfaat banget buat bacanya

    BalasHapus
  2. air adalah salah satu point penting dalam kehidupan, begitu pula dengan ekonomi. akan lebih baik perkembangan ekonomi di iringi pula dengan kesadaran dari masyarakat, entah itu pihak swasta atau pemerintah atau bahkan masyarakat itu sendiri, karena menjaga kelestarian lingkungan butuh peran dari semua.

    BalasHapus

Tags

About (1) berita travel (30) Culture (3) kolom opini (22) OPINI (25) Rekomendasi (2) Tips (1) Travel (32)

Popular