Translate

Cari Informasimu di Mainkejogja.com

TOTAL VIEWERS

Strategi "Oknum" Kikis Kepercayaan Masyarakat terhadap Aksi Mahasiswa

Mendengar kata Demontrasi Mahasiswa, Apa yang melekat pada fikiran anda?. Turun kejalan dengan beramai-ramai, orasi yang menggebu-gebu, bakar-bakar atribut, ricuh hingga perusakan fasilitas, atau sekelompok pelajar yang tidak terpelajar?. Image demikian semakin terbentuk tak kala dibenarkan oleh peristiwa demonstrasi yang sudah-sudah dan juga pemberitaan yang ada dimedia-media. Salah satu Elemen terdidik yang pro masyarakat justru tidak dipercaya masyarakat itu sendiri. Lantas siapa lagi yang akan menggebukan tuntutan atas ketidakadilan oleh mereka yang berkuasa.
Namun tunggu dulu apakah masyarakat kini tidak pandai menilai. Atau memang image demikian sengaja dibentuk, agar masyarakat sendiri menjadi apatis terhadap aksi-aksi mahasiswa. 

Menengok peristiwa demonstrasi bertajuk gerakan 1 Mei (Geram) Hari Buruh di Yogyakarta pekan lalu. Aksi yang diikuti berbagai organisasi mahasiswa DIY ini, “tadinya berjalan damai”. Namun tiba-tiba ricuh ketika hendak menutup aksi dengan membacakan pernyataan sikap. Disinyalir sekelompok orang masuk bergabung dalam aksi dan membuat onar. Dengan menggunakan pakaian serba hitam, sangat terlihat bagaimana mereka adalah kelompok atau oknum tertentu. Mereka menyelipkan motif lain dengan framing yang masih mengatasnamakan aksi 1 Mei. Dengan sengaja mericuh dan menebarkan isu-isu diluar konteks, bahkan memprovokasi antara massa dan masyarakat sekitar.

Kini 12 tersangka memang telah ditetapkan. Namun sorotan yang masih ramai hingga kini, bukanlah aksi 1 Mei. Tetapi justru aksi perusakan, dan aksi vandalisme diantaranya tulisan menteror sultan yakni tulisan “Bunuh Sultan”, “ hapuskan kesultanan”. Tentunya masyarakat DIY sendiri terpanggil dan geram. Sedang, pelaku bukan merupakan warga asli Yogyakarta.

Hal ini mau tidak mau semakin menimbulkan antipati masyarakat terhadap aksi-aksi mahasiswa secara keseluruhan. Memang, pelaku sendiri adalah seorang mahasiswa, tapi bisa jadi hal ini sudah terencana oleh entah siapa yang menyelipkan kepentingan, yang bau-baunya adalah kepentingan politik. Atau mungkin lebih buruknya perusakan ini tergolong strategi kontra intelejen, dimana didalamnya didukung aparatur- aparatur tertentu, kita tentunya juga tidak tahu. Berhubung  ada momen, langsung saja dimanfaatkan betul.

Sebelum menjustifikasi seharusnya masyarakat peka, tidak melulu langsung menyalahkan mahasiswa yang murni memang ingin menyampaikan aspirasinya. Memfilter media pemberitaan, media sosial, dan media apapun yang dapat dengan mudah memfiralkan sebuah permasalahan. Apabila didalam negara demokrasi, perihal demonstrasi saja telah berubah sudut pandang, maka dari mananya negara kita disebut negara demokrasi. Peliknya, demonstrasi selalu dianggap syarat akan kericuhan, keonaran dan perusakan.

Mahasiswa disini dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat. Dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Untuk itu siapa lagi yang akan menjadi Agent of Change (agen perubahan), mengontrol keadaan sosial, meneruskan tongkat etafet bangsa, jika image yang digambarkan seperti ini adanya. Namun pada intinya, tidak semua organisasi mahasiswa itu hobi merecok, kita harus melek akan fakta bukan karena image yang diada-ada.

Dari semua fenomena di atas bisa jadi merupakan strategi yang memang sengaja dimanfaatkan “oknum”. Tanpa kita sadari opini negatif  terhadap mahasiswa yang terbentuk dalam masyarakat, itulah goals yang ingin timbulkan, dan image kontra demekianlah yang ingin disematkan pada Mahasiswa. Tujuannya apa? Perlahan-lahan mahasiswa tidak dipercaya lagi oleh masyarakat, idealisme tak dapat dipertahankan dan  Kasar bahasanya mahasiswa dibungkam perlahan.
(Inasa Abiyani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tags

About (1) berita travel (30) Culture (3) kolom opini (22) OPINI (25) Rekomendasi (2) Tips (1) Travel (32)

Popular