Translate

Cari Informasimu di Mainkejogja.com

TOTAL VIEWERS

Miskinnya Norma Kesopanan Remaja



Awal tahun 2018 banyak terjadi kekerasan diberbagai sekolah wilayah Indonesia. Tidak hanya pengajar yang menasehati peserta didiknya dengan cara yang salah, namun hal sebaliknya seringkali terjadi.

Seperti pertengahan bulan April lalu, salah satu SMA di Madura telah memberikan kisah tragis. Seorang guru yang memiliki hak untuk menasehati muridnya yang tidak patuh aturan kelas justru mendapatkan perlawanan sebuah tonjokan.
Kekerasan lingkup sekolah tak hanya berhenti diperistiwa tersebut, masih banyak peristiwa serupa yang menimpa sekolah – sekolah lain di Indonesia. Namun, dari peristiwa tersebut, dapat dilihat jika penerapan norma di sekolah gagal dilakukan.

Belum terlambat, jika keluarga harus terlibat. Unit terkecil penanaman norma budi pekerti, kesopanan harus diajarkan kembali saat anak mulai remaja. Cobalah mengajak bicara anak sesuai karakter mereka, namun tetap jaga intonasi berbicara. Jangan sampai, nada tinggi dan ucapan tak baik terlontar. Memang disinilah, tantangkan sebagai keluarga teruji. Mencoba sabar serta menjaga komunikasi untuk hal yang lebih baik.

Selain itu, sistem pendidikan sebaiknya menjadi perhatian pemerintah. Pergantian menteri mempengaruhi kurikulum yang dijalankan. Seperti, pendidikan karakter yang seharusnya terus diupayakan sebagai pengganti dari konsep Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini telah tiada dan hanya tinggal menjadi sebuah nama dalam perjalanan sejarah masa lalu. Pengertian karakter yang banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence) kiranya bisa membantu dalam membentuk norma kesopanan pada anak. Hal ini Mengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat di mana waktu banyak dihabiskan maka perannya juga tidak boleh dikecilkan. Sayangnya, pendidikan budaya di lingkungan sekolah sejauh ini belum bisa mencapai tujuan utamanya. Pendidikan bahasa Jawa hanya mengajarkan tutur bahasa Jawa. Seharusnya, pengajaran tentang kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan budi pekerti dan kepribadian juga diajarkan.

Disisi lain, faktor internal remaja juga mempengaruhi nilai sopan santun. Cobalah merenung dan berkaca, kita  sebagai  remaja apakah patut melakukan hal yang tidak pantas. Cobalah membatasi diri kita dari aktivitas yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Boleh sekali – kali memuaskan diri untuk memenuhi keinginan, namun tetap jaga jati dan harga diri untuk hidup kedepan.
(Narum Khoriha)

2 komentar:

  1. Bermanfaat banget buat pembaca:)

    BalasHapus
  2. pendidikan jasmani dan rohani sangat penting, tapi pendidikan pengendalian emosi, serta penciptaan lingkungan yang baik di sekitar itu sangat berperan dalam menumbuhkan rasa moral dan nasionalisme yang di dasari oleh norma - norma dan keagamaan.

    BalasHapus

Tags

About (1) berita travel (30) Culture (3) kolom opini (22) OPINI (25) Rekomendasi (2) Tips (1) Travel (32)

Popular