Minggu, 08 April 2018

Museum Pergerakan wanita, Bukti Perjuangan. Bukan Feminisme



Jogja (mainkejogja.com) - Ketika berkunjung ke Jogja, pernahkah kalian mengunjungi Museum pergerakan wanita?. Museum yang terletak di jalan Jl. Laksda Adisucipto No.88, Yogyakarta ini, berada di dalam kompleks Monumen Bhakti Wira Wanitatama.
Museum ini salah satu tujuan destinasi di Yogyakarta yang wajib dikunjungi. Karena merupakan museum satu-satunya di Indonesia yang menyimpan koleksi penggambaran perjuangan wanita pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Museum ini juga mengedukasi para pengunjung, tentang sejarah pergerakan wanita. Kaum Wanita telah  mengalami perubahan besar-besaran mengenai posisi dan fungsi Wanita itu sendiri yang dampaknya dapat dirasakan hingga sekarang. 

Dalam koleksinya, museum ini menunjukkan arsip-arsip dan dokumentasi peran penting wanita, dalam berkontribusi memperjuangkan kemerdekaan. Seperti dokumentasi saat diadakannya Kongres Wanita I, II, III, kegiatan pemberdayaan wanita,  hasil karya dari  pemberdayaan wanita, serta foto keikutsertaan wanita dalam pasukan pertahanan tentara Indonesia . Selain itu juga terdapat barang-barang peninggalan seperti proyektor jaman dahulu, mesin jahit merk PPAFF tahun 1923, kerajinan logam kuningan dan masih banyak lagi.
  Saat berada di pintu masuk dapat dilihat patung tokoh-tokoh pejuang wanita yang mengusung emansipasi dalam rangka memperoleh pendidikan yang sama, hak hidup yang setara, serta hak menyampaikan aspirasi. Seperti RA. Kartini, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi.  

Namun pengunjung perlu tau dan harus dapat mebedakan, pesan-pesan maupun simbol-simbol disana ditunjukkan untuk menggambarkan semangat wanita saat jaman dahulu. Bukan bertujuan untuk memberikan pesan-pesan yang lain. Apalagi hingga menyebarkan gerakan feminisme yang sedang marak terjadi di belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Penting bagi para masyarakat, terutama para wanita jaman sekarang untuk mengetahui sejarah perjuangan wanita terdahulu. Sekarang kaum wanita telah mendapatkan hak yang setara dalam kehidupan, namun harus tetap dalam porsinya.
Bersambung part 2.

8 April 2018 
(Inasa Abiyani)

1 komentar:

Follow me

@Way2themes

Follow Me