Translate

Cari Informasimu di Mainkejogja.com

TOTAL VIEWERS

Pisau Logam Batik Mengembangkan Potensi Industri Kreatif


Bantul (MainkeJogja.com) - Yogyakarta merupakan kota yang kaya akan budayanya. Salah satunya adalah batik. Jika berbicara soal batik, biasanya identik dengan kerajinan berbahan kain atau kayu yang dibatik. Rupanya hal itu sudah biasa, di Desa Wisata Krengseng yang terletak di Dusun Kalirandu, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah sentra industri kerajinan yang unik dan tak kalah menarik menciptakan sebuah inovasi berupa pisau batik.
Berawal dari seorang warga yaitu Sudiman, pada tahun 2012, memulai usahanya membatik pisau. Puluhan tahun menggeluti kerajinan logam dan pisau, membuatnya tergelitik untuk  memberikan sentuhan berbeda pada pisau buatannya, hingga memutuskan mengukir batik sebagai kreasinya dalam berkarya. Tangkai pisau yang biasanya hanya berbentuk bulat atau gepeng diganti dengan berbagai macam bentuk seperti bentuk wayang rama dan  shinta, penari bali,  dan punakawan. Selain itu, corak yang dibuat pun beragam. Motif dan corak batik  yang sering dipakai pengrajin, seperti motif kembang, motif i, dan motif truntum. Aneka kreasi bentuk inilah yang membuat pisau batik ini tetap eksklusif. Berkat kreativitasnya, Sudiman mengatakan mendapatkan bantuan alat unntuk keperluan usahanya dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Pemerintah Daerah Yogyakarta ini sangat tanggap ya, ketika saya membuat pisau batik, dan menjadikan daerah Bantul ini sebagai wisata dan juga mempromosikan kota Yogyakarta sendiri, pada tanggal 20 April 2018 bantuan diberikan berupa gerenda, slap, planer untuk membuat tangkai pisau, mesin bubut, dan kompresor. Tujuannya tentu untuk mengembangkan pengrajin pisau.”ujarnya.

Proses kegiatan membuat pisau batik  ada beberapa tahapan,  mulai dari pembentukan pisau lalu diberi gagang. Bahan pisaunya pun bervariasi, tergantung keinginan konsumen yang memesannya. Selanjutnya adalah proses pembatikan, lempengan logam di ukir layaknya batik dengan menggunakan malam, lalu direndam selama 24 jam agar batik yang ada di permukaan pisau menjadi tahan lama. Tentunya bahan yang digunakan dalam membatik sangat aman untuk makanan. Corak batik yang dibuat pun beragam  dan batik yang dibuat merupakan batik timbul. Proses selanjutnya yakni meluruhkan malam dengan air mendidih. Kemudian masuk pada tahapan penjemuran. Dalam proses ini, dibutuhkan waktu sekitar dua sampai dua setengah hari agar batik cepat kering. Biasanya, dalam pembuatan pisau batik ini, pak sudiman dibantu oleh 6 karyawannya.  Omzet dari pisau batik ini perbulannya mencapai lima juta rupiah dan mampu menembus pasar internasional yakni Malaysia dan Perancis. Untuk harga jualnya bervariasi tergantung dari ukuran pisau dan kerumitan desain batiknya. Pisau batik dibandrol mulai Rp 35.000 hingga Rp 450.000. Selain difungsikan sebagai alat untuk pemotong, tidak jarang orang membeli pisau ini untuk oleh-oleh atau souvenir

8 April 2018
(Dita Tamara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tags

About (1) berita travel (30) Culture (3) kolom opini (22) OPINI (25) Rekomendasi (2) Tips (1) Travel (32)

Popular