Hari Kartin, Edukasi Berkebaya di Museum Sonobudoyo

JOGJA (Mainkejogja.com) - Bertepatan dengan Hari Kartini,  Museum Sonobudoyo mengadakan sebuah acara edukasi berkebaya. Acara ini dihadiri oleh Chattra Kebaya dan ada pula duta museum tahun 2015, 2016 dan 2017. Kebaya yang zaman dahulu menjadi pakaian sehari-hari, sekarang hanya digunakan saat acara-acara tertentu. Misalnya, saat menghadiri acara pernikahan, acara wisuda, atau acara upacata adat.
              
 “Kebaya tentu mempunyai pakem penggunaannya ,namun sekarang bisa dimodifikasikan sesuai dengan perkembangan zaman.” Begitulah menurut anggota paguyuban Chattra Kebaya, Nusieta Ayu Primadian . Tidak hanya itu untuk model, aksesoris ataupun motif dalam kebaya juga mempunyai filosofi masing-masing. Seperti halnya kebaya Jawa dan Kebaya Bali, tentu mempunyai makna berbeda. Kebaya Jawa salah satunya mempunyai khas dengan bagian leher berbentuk V. Sedangkan, menurut duta museum tahun 2016 ,Putu Anggita Wijayanti orang Bali biasanya mengenakan kebaya berwarna putih untuk beribadah, sebab warna putih dianggap suci dan bersih. Ia juga menambahkan tatanan rambut untuk wanita yang sudah menikah yaitu menyanggul rambutnya dengan tidak menyisakan sehelai rambut. Berbeda dengan wanita yang belum menikah, ia akan menyanggul rambutnya dengan menyisakan beberapa helai rambutnya.
                       
 “ Mencintai kebaya itu dari diri sendiri dulu” begitulah ucap anggota paguyuban Chattra Kebaya, Nusieta Ayu Primadian. Pelestarian kebaya memang membutuhkan peran dari semua elemen masyarakat, mulai dari yang muda sampai yang tua, baik dari desa ataupun kota. Dengan begitu, kebaya akan terus eksis meskipun zaman terus berkembang.

Penulis  : Elok Karisma

Guyup Rukun Warga Sleman dengan Pementasan Tari

SLEMAN (Mainkejogja.com) –Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman mengadakan rangkaian festival kesenian. Rangkaian tersebut diantaranya adalah pementasan tari oleh sanggar-sangar seluruh Sleman, yang diadakan Sabtu/21/2018 di Balai Serbaguna Sleman.
Tari tari yang dipertunjukkan pada pementasan festival kesenian diantaranya Tari topi, tari kuda lumping, tari ayu kemudian masih banyak lagi. Pementasan tari ini diikuti 20 peserta penampil dari berbagai usia.
“ kegiatan festival ini sampai tanggal 24 April, yang isinya tidak hanya tetarian, ada juga festifal teater budaya, dolanan anak dan masih banyak lagi ” Kata Eko Ferianto koordinator lapangan Festifal Kesenian Sleman.
Seluruh warga guyup, berkumpul menyaksikan pementasan tari. Acara ini tentunya untuk meningkatkan wisatawan dan kecintaan terhadap kebudayaan daerah. 

Penulis : Inasa Abiyani

Galakkan Sleman Berbudaya, Melalui Festifal Kesenian



SLEMAN (Mainkejogja.com) Dinas Kebudayaan Sleman mengadakan Festifal Kesenian Sleman 2018 untuk menggalakan Sleman Berbudaya. Festifal ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyongsong hari jadi Sleman yang jatuh pada 15 Mei mendatang. Acara festifal kesenian Sleman menampilkan kesenian dari beberapa sanggar, sehingga yang dilibatkan yaitu kecamatan sebagai pusat kebudayaan.
“Untuk mengimplementasikan penggunaan kebudaayaan yang ada di sanggar-sanggar yang sudah pernah kita fasilitasi pernah kita bantu, terus sekarang digelar bareng bareng kita festifalkan” kata Eko Feriyanto sebagai koordinator lapangan Festifal Kesenian Sleman.

                                                                                                  
Festifal Kesenian Sleman yang diadakan di Dengung, Tridadi ini terdiri dari lima panggung yang berbeda genre penampilan. Malam ini (21/04/18) ada dua hadroh dan tiga group kroncong yang akan menunjukkan kepiawaiannya dalam bermusik dengan menggunakan kostum tradisi jawa. Berbagai kesenian yang berasal dari Sleman ikut memeriahkan acara tersebut. Kemudian di hari berikutnya jam sepuluh siang akan ada jathilan, malamnya dilanjutkan parade wayang orang. Sebelumnya, semarak festifal kesenian Sleman diisi dengan kegiatan kirab budaya dari 17 kecamatan di Sleman. Beberapa kelompok menggunakan kostum prajurit bregada tradisonal Jawa, memakai kostum baju lurik, dan kostum pakaian hitam-hitam dengan riasan putih di wajah dengan mata dan mulut yang diwarnai hitam.











penulis : Dita Tamara